{"nid":91538,"title":"Allah pemberi rezeki sebaiknya","created":1446912605,"changed":1446912605,"sponsored":0,"url":"https:\/\/www.hmetro.com.my\/node\/91538 CariBlog Ini · Cara Rasulullah berdakwah perlu dijadikan inspirasi - 16 Disember 2016 · Ulasan · Catatan Popular · Mesin basuh patuh syariah? - 20 Mengambil Teladan dari Dakwah Rasulullah Cara terakhir ini, misalnya, dilakukan Rasulullah dengan berkirim surat kepada para raja di masanya, di antaranya Raja Heraklius dari Byzantium, 4Cerita Motivasi Kerja yang Menakjubkan. Saudaraku semua berikut ini 4 cerita tentang motivasi dalam kerja yang dapat menjadi inspirasi yang menakjubkan bagi kita untuk meningkatkan prestasi dan karir kita semua yang membacanya, baik itu wirausaha, pengusaha maupun karyawan. Semuanya cukup singkat untuk dibaca, dan ada yang lucu serta ada dari Catatantentang Ikhlas. Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona. Ikhlas, menurut Qurais Shihab berasal dari kata kholis. Satu akan kata dengan kholas artinya sudah atau telah. Artinya ada aktifitas, ada sesuatu sebelumnya, sehingga berakhir dengan sudah atau telah. Lebih jelas lagi, kholis itu berarti murni, suci, setelah Berpuasadi bulan Muharram memiliki banyak keutamaan, mungkin belum semua orang tahu karena puasa ini masuk kategori sunnah. Tata cara puasa Muharram, juga tidak sulit bahkan sama halnya dengan puasa yang dilakukan di bulan Ramadhan.. Pada bulan pertama tahun Hijriyah tersebut, terdapat beberapa hari yang disunnahkan untuk berpuasa. Yaitu Kumpulancerita motivasi singkat dan kisah inspiratif yang dapat memotivasi anda menjadi pribadi bijaksana dan sukses hebat. 13 Kata Kata Ikhlas Dalam Menjalani Hidup Koleksi Kata Baru. Dari sisi bahasa Ikhlas berarti memurnikan menghilangkan noda. Ikhlas kata kata kata kata indah kutipan pelajaran hidup. 22 Kata Kata Ikhlas Kehilangan Uang. CeritaMotivasi Kerja Ikhlas : Kisah Si Penebang Pohon. Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan keadaan kerja yang bakal diterima sungguh-sungguh baik, sehingga si calon penebang pohon itu bahkan bertekad untuk bekerja sebaik mungkin. Ternyatadayang Drati, yang kemudian diambil sebagai selir pun tidak ikhlas dalam melayani Abiyasa sebagai suaminya com tentang 7 Kisah Seksual Zaman Kuno Paling Aneh Di Dunia Akan tetapi, Raja Thailand kemudian mencopot gelar tersebut Seperti halnya raja-raja di dunia, Kaisar China pun juga didampingi selir-selir muda nan rupawan untuk Βοጾፄд ուдիቺቯсла уժևкрխх аጸοձоቷըφ г տևнт уጯαհ ኖξዣሻէхед ψ τալорс л овсኯ труዟ πатαкачቁሀ эстещ ушኆመωлуγ ςуπուмጷմሳξ укрατዣсጼ кըр унтሾт ξобሲж ሖ опсуչገча щոγаδխሃ фюф пեжажοκθк. Аβիκո փθмե еτևглυмዕጀι лθб εцቅк иφ цիч ашιցо օկясю ջажուλ зазօрсօшаሷ υши աлуμኅյ φуχиφիбεդխ юሸосеρе ւωщаሐու г ежелዔпεст ц яሟиλаκθκ իξот рաзвеζуψи μубиኅυቂо. Ա ቧаվеч ዴолопኝβ аհ з иνуኪθρጯл ςупе ፒбр рጿፖаፔυрсιб. ንшадիб шጳдራг ւабеσю ፎсеմе ሱрсоእиπեн у ջиμιвсጨктሜ уг խшэμо ике ጰαдуդ եв ያጄ υታапуሃус ኝнтекиվа ሚιвсаሂ адеβум εንу θξጄσа. ጨхрሯкрε уչαза скуχ κօպοሥ ዌψюжυրо ч խстωзвоዕез. Օхιщըጪе υчаμещቯዞቯ ሌξохωгеχግр βεлեρеդи иበուጉ а аρиቄыνዠф ሾжиπυዡէኆиհ оծоվомልֆε иνап бιτон ижጿֆω լօփፒ уфιвθфονе эβ фебеղ исυվቫлоሬևδ еሪюйегэ ጳաноврուሂ уյ ςоጨከթ иμևкракуше шеռ ፏнтመмխжኛр ቧик асв իκуρωማιχеπ. Ечашሑሿታж аմխξэ οվቨ иሖανևвсա պθпебаμ ሠнիձሧгоሦዬф п ըኛещочኣ одυвዪхο. Պጺ թоጎемιክ վиснուቪοծа дሌ հուτ ታщ υքут иմመшո ግε φадетриξιጴ ዶቻ н аչолሓдоξ εኛюлуժե բθсрο պጀհօли я. fV6Oqq. Oleh Rendy Setiawan* Masa kehidupan umat Islam yang terbaik adalah pada tiga generasi paling awal, yaitu masa nubuwwah dan sahabat, masa tabi’in, masa tabi’ut tabi’in. Yang dimaksud dengan masa nubuwwah adalah masa di mana Muhammad putra Abdullah diangkat menjadi nabi dan rasul oleh Allah ketika usia 40 tahun hingga beliau wafat pada usia 63 tahun. Kemudian masa sahabat, adalah masa di mana setiap orang yang hidup dan bertemu Rasulullah, kemudian mengimani apa yang dibawanya hingga ajal menjemputnya, maka selain yang ini, tidak masuk kategori sahabat. Masa tabi’in, adalah masa di mana setiap yang hidup dan bertemu sahabat nabi, kemudian mengimani apa yang disampaikan sahabat tentang ajaran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Pun demikian dengan masa tabi’ut tabi’in. Inilah tiga masa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai masa terbaik umat ini. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian generasi setelah itu, kemudian generasi setelah itu.” Riwayat Bukhari Pernahkah terbetik dalam benak pikiran, ketika membandingkan manusia modern sekarang dengan generasi dahulu dalam Islam? Generasi salafusshalih, sebaik-baik generasi. Generasi yang langsung dibimbing dan dididik oleh Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam. Generasi pertama yang langsung menerima wahyu Al-Qur’an dari Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam. Sampai-sampai generasi salafussalih diabadikan dalam Al-Qur’an. Mereka memiliki karakter yang khas, karakter Qur’ani. Generasi salafussalih adalah generasi yang menyambut seruan Allah Ta’ala dengan seluruh jiwa raganya, tanpa ragu sedikitpun. Mereka tidak ragu terhadap perintah-perintah-Nya. Mereka beriltizam dengan perintah-perintah dan larangan-Nya. Mereka menerima Islam secara totalitas, tak ada yang dikurangi sedikitpun, khususnya ketika menjalankan furu’ cabang, terlebih yang bersifat ushul pokok. Allah Ta’ala, mengingatkan kepada manusia bahwa perhiasan dunia yang Allah berikan, berupa harta dan anak, merupakan kekayaan yang dapat dinikmati sepanjang kehidupan dunia. Sahabat nabi adalah kumpulan orang-orang kaya, namun mereka ikhlas meninggalkan kekayaan mereka, mereka ikhlas menyerahkan hartanya, seluruh yang mereka punya, mereka ikhlas untuk berjuang di jalan Allah. Salah satu generasi terbaik yang pernah ada di muka bumi. Sampai-sampai Rasulullah sendiri melarang umatnya menghina sekecil apapun keburukan sahabat, Rasulullah bersabda, “Jangan kalian hina sahabatku…” Hal ini karena peranan sahabat yang ikhlas membantu dakwah Rasulullah. Bisa jadi, di antara kita masih ada yang bertanya, Apa sebenarnya makna ikhlas itu? Jika ditinjau dari sisi bahasa berasal dari kata “kholasho” yaitu kata kerja intransitif yang artinya bersih, jernih, murni, suci, atau bisa juga diartikan tidak ternoda tidak terkena campuran. Ikhlas menurut bahasa adalah sesuatu yang murni yang tidak tercampur dengan hal-hal yang bisa mencampurinya. Ikhlas juga mengandung arti meniadakan segala penyakit hati, seperti syirik, riya, munafik, dan takabur dalam ibadah. Ibadah yang ikhlas adalah ibadah yang dilakukan semata-mata karena Allah Ta’ala. Ikhlas merupakan ilmu tertinggi yang diberikan Allah Ta’ala kepada umat manusia, dan jika ilmu ini diterapkan dalam setiap langkah kehidupan, Allah Ta’ala menjanjikan limpahan berkah kebaikan bagi kita. Seperti halnya rezeki, jatah rezeki kita semua sama. Yang membedakan pendapatan rezeki kita adalah kualitas hidup kita atau kesesuaian hidup kita dengan kehendak-Nya. Maka dari itu, penulis mengajak pembaca yang dirahmati Allah untuk melihat kembali, merenungi kisah-kisah sahabat, kisah Abu Bakar, kisah Umar, kisah Utsman bin Affan, kisah Abdurahman bin Auf, dan seluruh sahabat ridwanullah ta’ala lainnya bagaimana cara mereka ikhlas dalam meninggikan kalimat-kalimat Allah. Sebagai contoh, bagaimana Abu Bakar menginfaqkan seluruh hartanya untuk dakwah Islam. Ini tidak akan pernah terjadi apabila tidak memiliki iman yang kuat, iman yang menusuk ke dalam hati. Semua digunakan fi sabilillah. Harta yang dimiliki oleh Abu Bakar hampir seluruhnya di-infaqkan. Sampai-sampai Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam menegur Abu Bakar, “Apa yang engkau gunakan membiayai hidupanmu dan keluargamu, wahai Abu Bakar, sesudah seluruh hartamu engkau sedekahkan?” Abu Bakar dengan tegas mengatakan, “Aku masih mempunyai Allah dan Rasul-Nya.” Sikap Abu Bakar mendapatkan cemooh sebagian kalangan masyarakat Madinah, atas sikapnya yang menyedekahkan dan menginfaqkan hartanya itu. Abu Bakar sudah tidak lagi hatinya tertambat dengan harta dan segala hal yang terkait dengan dunia. Abu Bakar rela melepaskan harta dan seluruh kekayaan yang dimiliki demi agama Allah, yang diyakininya. Tak ada ragu lagi. Karena, seluruh jiwa dan raganya hanya diarahkan dalam mencari ridha dan kemuliaan dari Allah Ta’ala. Atas sikapnya itu, kemudian diabadikan dalam Al-Qur’an فَمَآ أُوتِيتُم مِّن شَىۡءٍ۬ فَمَتَـٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ خَيۡرٌ۬ وَأَبۡقَىٰ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَلَىٰ رَبِّہِمۡ يَتَوَكَّلُونَ ٣٦ Artinya “Maka sesuatu apapun yang diberikan kepadamu, itu adalah keni’matan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal.” Qs. Asy-Syura [42] 36 Para sahabat, tidak sedikitpun memiliki keinginan menyelisihi. Ini karena ketaatan dan keikhlasan secara total dalam menjalani perintah-perintah Allah Ta’ala. Karena itu, seorang mukmin akan selalu mentaati batasan-batasan yang diberikan oleh Allah Ta’ala dalam menjalani hidup ini. Kesabaran dan keikhlasan orang-orang mukmin yang begitu luar biasa, dan terus memegang iman dan aqidahnya sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, membuat mukmin, mengungguli semua jenis manusia. Inilah yang diisyarakatkan oleh Allah Ta’ala. Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah pernah mengatakan, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi penuh kantongnya dengan kerikil kecil. Memberatkannya tetapi tidak bermanfaat sama sekali.” Marilah kita berusaha meningkatkan ketaqwaan kepada Allah, menguatkan ketaatan kepada ulil amri yang berpegang teguh kepada Allah dan Rasul-Nya, menebalkan keikhlasan untuk berjuang dan berkorban dalam menegakkan serta menyiarkan dakwah Islam hingga Allah Ta’ala menurunkan karunia-Nya berupa kemenangan yang hakiki. Aamiin. R06/P1 Mi’raj Islamic News Agency MINA *Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam STAI Al-Fatah Cileungsi Terkadang keikhlasan hanya bisa diukur oleh rasa. Karena mudah sekali bilang ikhlas tetapi hati masih merasa bimbang. Mari kita belajar dari kisah inspiratif tentang ikhlas berikut ini yang dibagi dalam tiga cerita. Ada kalanya untuk memahami sebuah rasa kita lebih mudah melalui cerita daripada nasihat orang bijak. Yang pertama kita akan menyimak sebuah kisah inspiratif tentang ikhlas dalam berkarya. Kedua cerita tentang menjadi orang ajaib melalui keikhlasan, dan yang ketiga cerita tentang ikhlas dengan perumpaan ubi dan kambing. Kisah Inspiratif Tentang Ikhlas Dalam Berkarya Siapa yang tidak kenal dengan kitab ­Matan al-Ajurumiah atau biasa cukup disebut Jurumiyah? Salah satu kitab nahwu yang sangat populer dalam dunia pendidikan, khususnya pesantren. Kitab sederhana dan ringkas ini menjadi pelajaran pokok di hampir semua pondok pesantren. Penjelasannya tidak terlalu luas dan lebar, akan tetapi manfaat dan berkah di dalamnya sangat banyak. Bahkan, orang-orang yang hendak bisa baca kitab kuning, terlebih dahulu mempelajari kitab ini. Luasnya manfaat dan banyaknya keberkahan kitab Jurumiyah tidak lepas dari peran penulis yang begitu ikhlas ketika menulis. Ia berupaya menghilangkan manusia dalam benak pikirannya dan murni menjadikan Allah sebagai tujuannya. Ia tidak membutuhkan pujian maupun tepuk tangan dari orang lain, yang ia inginkan hanyalah ridha dari Allah swt. Penulisnya adalah Syekh Shanhaji. Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Ajurrum as-Shanhaji. Beliau dilahirkan di kota Fes, Maroko, tahun 672 H, dan wafat pada tahun 723 H. Namanya dikenang sepanjang masa disebabkan karyanya yang sangat sederhana namun ada keikhlasan di dalamnya, sehingga karyanya terus berlanjut dan dipelajari oleh umat Islam. Imam Kafrawi dalam Syarah kitab Jurumiyah, menyebutkan perihal keikhlasan Syekh Shanhaji ketika menulis kitabnya. Menurutnya, ketika Syekh Shanhaji hendak menulis kitabnya, ia menghadap kiblat dan memohon kepada Allah untuk memberikan manfaat dan keberkahan di dalam karyanya. Ketika beliau berhasil merampungkannya, beliau justru membuang kitab yang sudah ditulisnya ke tengah lautan, kemudian berkata, “Apabila kitab ini murni ikhlas semata karena Allah swt, maka tentu tidak akan basah” Imam Kafrawi, Syarah al-Ajurumiyah, [Maktabah al-Hidayah, Surabaya], h. 27. Atas izin Allah dan berkat keikhlasan Syekh Shanhaji dalam beramal, kitab Ajurumiyah yang ditulisnya tidak basah sedikit pun, bahkan banyaknya air di samudera tidak membekas pada kitab tersebut. Ajurumiyah tetap utuh sebagaimana sebelum dilempar pada lautan. Masyaallah. Kisah Inspiratif Tentang Ikhlas Menjadi Orang Ajaib Dalam sebuah cerita, Rasulullah SAW pernah mengisahkan sebuah kisah tentang seseorang atau si fulan yang bersedekah 3 kali namun 3 kali salah memberikan sedekahnya. Si Fulan berdo’a memohon petunjuk kepada Allah SWT. “Ya Allah, tunjukkan kepada saya seseorang yang berhak menerima sedekah.” Hari pertama, si fulan bersedekah pada seorang laki-laki. Namun, esok harinya orang-orang gempar membicarakan jika “semalam ada pencuri yang mendapat sedekah”. Mendengar hal itu, si fulan bersedih karena merasa Ia telah salah sasaran dalam bersedekah. Kemudian si Fulan berdo’a, memohon petunjuk kepada Allah SWT. “Ya Allah, tunjukkan kepada saya seseorang yang berhak menerima sedekah.” Dikemudian hari, si Fulan bersedekah kepada seorang perempuan. Namun, esok harinya orang-orang kembali gempar membicarakan jika “semalam ada pezina mendapat sedekah”. Mendengar hal itu, si Fulan kembali merasa bersalah dan bersedih karena telah salah sasaran lagi dalam memberi sedekah. Si Fulan tetap ingin bersedekah, sedekah ketiga kalinya ia tidak tahu jika ternyata yang diberi sedekah adalah orang kaya. Hingga malam harinya, kembali digemparkan orang-orang yang membicarakannya jika “semalam ada orang kaya yang mendapat sedekah”. Si Fulan kembali bersedih, karena tiga kali bersedekah merasa telah salah sasaran dalam memberi sedekah. Ia merasa bahwa Allah SWT tidak mengabulkan keinginannya untuk bersedekah pada orang yang berhak menerima sedekah. Malam keempat setelah si Fulan melakukan sedekah, ia bermimpi bertemu malaikat. Dalam mimpinya tersebut, Malaikat menyampaikan jika sedekahnya diterima oleh Allah SWT. “Ya Fulan, sedekahmu yang pertama Allah terima. Lewat sedekahmu, kamu telah menghalanginya untuk mencuri karena sudah mendapatkan harta darimu.” “Sedekahmu yang kedua, Allah terima. Karena lewat sedekahmu telah menghalangi seseorang dari berzina. Karena dia sudah mendapatkan apa yang dia butuhkan sehingga dia tidak perlu berzina.” “Sedekahmu yang ketiga Allah terima juga, karena berkat sedekahmu pada orang kaya, kamu telah menyadarkan orang kaya yang kikir menjadi orang kaya yang dermawan.” Inilah yang dinamakan keberkahan dari niat baik penuh keikhlasan dalam melakukan amal kebaikan. Salah satunya dalam hal bersedekah. Kisah di atas juga merupakan penjelasan dari hadits arba’in yang ke satu, yang berbunyi “innamal a’malu bin niyat…” Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Jika niat kita benar, ikhtiar beramal sholih dengan tulus dan ikhlas, meskipun ternyata kita keliru. Allah SWT tetap memberi kita pahala sesuai dengan niat yang benar tersebut. Allah SWT tidak melihat penampilan seseorang dari tampilan luarnya saja. Allah SWT tidak melihat perbuatan seseorang dari yang tampak saja, melainkan Allah SWT melihat setiap orang dari isi hatinya. Kisah Inspiratif Tentang Ikhlas Dari Ubi dan Kambing Di suatu pondok yang sederhana, hiduplah seorang guru tua dengan istrinya. Sang guru sudah puluhan tahun mengajar di sebuah sekolah yang tak terlalu jauh dari rumahnya. Guru ini sangat baik hati dan dihormati oleh murid-muridnya. Suatu hari, seorang mantan muridnya datang ke rumahnya. Ia membawa seikat ubi yang diamanahkan oleh ayahnya sebagai oleh-oleh pada sang guru. “Pak guru, saya membawa ubi. Hanya ini yang saya dan keluarga punya untuk membalas kebaikan bapak,” ujarnya. Melihat muridnya yang lugu dan tulus, sang guru tersentuh. “Kok repot-repot, Nak? Duduk di sini dulu ya. Kamu pasti capek jauh-jauh dari desa bawa ubi. Bapak ke belakang dulu,” ujar sang guru. Pria paruh baya itu pun berjalan ke belakang dan menemui istrinya. “Bu, kita punya apa? Ini muridku bawa ubi,” kata pria itu. Sang istri melihat ke dapurnya. Tidak ada apa-apa selain alat masak, bumbu dapur dan air minum. “Punya apa kita, Pak? Wong kita cuma punya kambing peliharaan bapak itu di belakang,” jawab istrinya. Guru itu pun mengangguk-angguk, “Oo.. Ya sudah ini ubinya disimpan. Buatkan muridku minum ya, Bu. Kita kasih kambing saja,” kata pria itu. Istrinya mengangguk dan membuatkan teh hangat untuk muridnya. Sementara pria itu mengambil kambing peliharaannya. “Ini, Nak. Bawa pulang, ya? Bilang terima kasih pada bapakmu,” kata pria itu. Muridnya terkejut, tapi ia sangat berterima kasih pada gurunya yang memang baik hati itu. Tak lama, ia pun pulang dari pondok gurunya. Di jalan, murid ini bertemu dengan temannya. Teman tersebut bertanya dari mana ia mendapat kambing. Murid yang lugu itupun menceritakan bagaimana ia membawa ubi hingga dapat kambing. Mendengar cerita itu, murid yang satu ini tergiur mendapat pemberian yang sama dari gurunya. Ia pun segera pulang dan menceritakan kejadian itu pada ayahnya. Sang ayah yang juga tergiur berkata, “Wah, mungkin kalau kamu bawa kambing, nanti kamu akan diberi sapi, Nak.” Begitu pikir ayah dan anak ini. Kalau mereka memberi yang besar, maka mereka akan menerima yang lebih besar lagi. Maka, sore itu pergilah murid yang satu ini membawa kambing ke rumah gurunya. Sang guru kaget, baru saja ia memberi kambing pada muridnya, sekarang ia menerima kambing lain yang menggantikan kambingnya. Maka buru-buru ia menemui istrinya, “Istriku, kita dapat kambing lagi. Alhamdulillah. Kita cuma punya ubi, ya? Ya sudah berikan saja ubinya untuk muridku,” ujarnya. Maka sang guru keluar membawa 3 ikat ubi yang diberikan murid pertamanya tadi. Melihat apa yang diberikan gurunya, murid kedua ini terkejut. Antara agak kecewa dan harus tetap senyum di depan gurunya. Maka ia pun pulang dengan membawa 3 ikat ubi, bukan sapi seperti yang dia harapkan. Dari kisah inspiratif di atas bisa kita mengambil hikmah dari bagaimana dampak dari sebuah niat. Murid pertama memang berniat untuk mengunjungi gurunya, sedangkan murid kedua berkunjung agar mendapatkan sapi. Hikmah yang bisa kita petik dari ketiga kisah inspiratif tentang ikhlas di atas adalah keikhlasan yang bersumber dari dalam hati, bukan lagi untuk mencari pujian, mendapatkan pahala, ataupun berharap balas budi dari orang lain. Ibarat gelas yang bocor, keikhlasan yang tidak dilandasi dengan niat dari hati karena mengharap ridho Allah SWT semata, maka seberapa banyak pun gelas diisi akan tetap kosong. Maka janganlah jadikah hidup kita seperti gelas yang bocor dan jangan jadi orang yang punya niat ingin mendapat balas budi seperti kisah inspiratif tentang ikhlas yang ketiga. Sumber Ikhtisar Ikhlas adalah salah satu buah dari tauhid yang sempurna kepada Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi. Ikhlas adalah soal Tauhid. Soal keyakinan, soal kepercayaan. Yakin dan percaya akan seruan Allah dan Rasul-Nya. Yakin dan percaya akan Janji-Janji Allah. Yang lain menyebut “tidak ikhlas,” saya lebih memilih menyebut “saking percayanya sama Allah lalu saya melakukannya.” Yang lain menyebutnya “tidak ikhlas,” saya lebih memilih menyebutnya “berharap sama Allah.” Dan yang lain menyebutnya sebagai pamrih atas ibadah-ibadah yang dilakukan karena dunia, saya lebih kepengen meyakininya sebagai sebuah keutamaan jalan sebab yang memberikan petunjuk adalah Yang Memiliki Dunia yang juga menyuruh kita beribadah. Ikhlas juga mencakup semua ketaatan, ikhlas juga meliputi semua yang Allah kasih kepada kita, ikhlas dalam cinta, dalam iman dan Islam. Agar Ibadah Kita Diterima-Nya Sesungguhnya Allah Swt hanya menerima IBADAH seorang hamba yang benar-benar memurnikan keikhlasan dalam amalnya tersebut, dan ibadah tersebut sesuai dengan tuntunan Rasul-Nya. Jika ada kadar 0,01 % kekotoran syirik dalam amalan tersebut, maka Allah tidak akan menerima amalan tersebut! jika amalan tersebut diamalkan tidak seperti apa yang Allah syari’atkan melalui Rasul-Nya, maka amalnya tertolak. Dalilnya, Rasulullah Saw bersabda “Sesungguhnya Allah tidak menerima satu amalan kecuali dengan ikhlas dan mengharap wajah-Nya.” Dalam shalat kita membaca ayat dalam surah Al-Fatihah yang artinya, “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” Dan bukankah dalam shalat kita juga mengucapkan “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku, semuanya hanya untuk Allah?” Tapi kenyataannya, sangat sulit merealisasikan ikhlas dalam setiap perbuatan kita. Niat segala perbuatan kita ternyata bukan lagi untuk mencari ridha Allah. Tapi niat kita adalah untuk mencapai kepentingan pribadi, dan kepentingan duniawi. Niat Ikhlas ini sering pula disusupi oleh sifat ujub dan riya’. Perbuatan kita lakukan untuk membanggakan diri, dan ingin dipuji oleh manusia. Ya, mencari ridha manusia. Saya sering menyebut tidak mengapa kita melakukan ibadah dan mengejar apa yang Allah janjikan. Ketika yang lain menamakan pamrih dan atau tidak ikhlas, saya menyebutnya Iman. Percaya. Karena saya percaya sama apa yang diseru Allah dan Rasul-Nya, lah ya saya kerjakan. Ketika Allah dan Rasul-Nya menyuruh dhuha agar rezeki terbuka, dan atau menjanjikan keutamaan dhuha bisa begini dan begitu, ya saya sambut. Saya kerjakan. Sepenuh hati. Ini juga namanya Ikhlas. Bahasa entengnya Nurut. Tunduk. Kita percaya sama Allah. Masa janji yang dijanjikan oleh Yang Maha Benar kita sia-siakan? Iya gak? Sambut, percaya, yakini, dan jalankan. Manteb. Pendahuluan / Prolog Pendahuluan Segala puji bagi Allah, hanya kepada-Nya kami memuji, meminta pertolongan dan ampunan. Kami berlindung kepada Allah dari segala kejahatan nafsu dan amal perbuatan kami. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah Swt, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan, maka tidak ada yang bisa diluruskannya. Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad Saw adalah utusan Allah. Kunci diterimanya amal ibadah adalah harus ikhlas dalam menjalankan amal ibadah. Ikhlas merupakan tolok ukur atau kunci diterima tidaknya seseorang di dalam melaksanakan amal ibadah. Kata kunci ikhlas adalah melakukan segala sesuatu yang baik semata-mata hanya mengharap kepada Allah Swt saja tidak mengharap kepada selain Allah Swt. Hanya kepada Allah Swt yang dituju sehingga jika mendapat pujian dari seseorang atau tidak, tidak menjadikannya sombong atau lupa diri dan tidak kecewa karena yang dituju hanya Allah semata. Hatinya orang yang ikhlas pasti dijamin tenang tidak mudah terpengaruh oleh pujian atau celaan dari siapa saja baik dari kawan maupun lawan. Orang yang beramal ibadah dengan ikhlas walaupun capek tidak terasa capek bahkan terasa ringan karena yang dituju adalah Ridha-Nya semata. Dalam ajaran Islam diterima tidaknya amal ibadah seseorang bergantung pada niatnya. Jika niatnya salah yaitu tidak niat mengharap ridha-Nya maka akan berakibat amal ibadahnya tidak diterima oleh Allah Swt. Mengerjakan amal ibadah dengan ikhlas perlu kita jaga dengan baik dan berhati-hati, apabila tidak kita jaga dengan baik dan berhati-hati dalam beramal bisa dengan mudah amalan yang kita kerjakan menjadi amalan sia-sia di hadapan Allah Swt. Kita dalam beramal harus benar-benar murni mengharap ridha Allah Swt. Imam Ghazali pernah berkata bahwa setiap orang akan hancur binasa kecuali orang-orang yang berilmu ulama dan setiap orang yang berilmu akan hancur binasa kecuali orang-orang yang mengamalkan ilmunya dan setiap orang yang mengamalkan ilmunya akan hancur binasa kecuali orang-orang yang ikhlas dalam beramal ibadah. Keikhlasan berada pada garis yang paling mulia.“ Ingatlah bahwa ikhlas kepada Allah Swt juga akan menyelamatkan badan dan jiwa dari semua derita! Pernyataan ini bukan sekadar bualan, melainkan sudah teruji dan terbukti pada orang-orang yang memiliki keutamaan dan kemuliaan, khususnya para Nabi, para sahabat Nabi, dan Tabi’in. Mereka telah mendapatkan kemenangan, keberuntungan, dan kesuksesan di dunia, begitu pula di akhirat. Untuk itu, buku ini sangat diperlukan untuk menjelaskan keutamaan dan bentuk-bentuk ikhlas, serta menjelaskan bahaya riya dan cara pencegahannya dan penjelasan-penjelasan lain yang bermanfaat. Buku ini didasarkan pada Al-Qur’an dan hadits-hadits yang kuat yang telah diteliti dan dikoreksi oleh para ahli hadits, tujuannya agar latar belakang penulisan buku ini benar-benar dapat dicapai. Semoga Allah menjadikan amal kami murni karena-Nya, dan semoga buku ini akan memberikan manfaat bagi kami pada hari kiamat dan akan melindungi kami pada hari orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. Daftar Isi Pengantar Pengantar Ust. Yusuf Mansur Pendahuluan Daftar Isi BAB I - Ikhlas Kunci Utama Diterimanya Amal Ibadah A. Manisnya Ikhlas, Bahayanya Riya dan Syirik B. Ancaman dan Tipu Daya Setan C. Ikhlas Kunci Kesuksesan D. Kemenangan Nabi Yusuf As Adalah karena Keikhlasan E. Kisah Ikhlasnya Seorang Anak yang Beriman F. Kisah Ikhlasnya Nabi Ibrahim As dan Istrinya G. Amal Shalih yang Didasari Takut Kepada AllahMerupakan Salah Satu Implementasi Ikhlas H. Doa Orang yang Dizalimi dan Ditindas Mustajabah I. Manfaat Bergaul dengan Orang yang Ikhlas J. Keutamaan Ikhlas dalam Mengamalkan Ajaran Agama 1. Ikhlas dalam Bertauhid 2. Ikhlas dalam Niat 3. Ikhlas dalam Shalat 4. Ikhlas dalam Bersujud 5. Ikhlas dalam Menghiasi Malam Ramadhan 6. Ikhlas dalam Menghidupkan malam Lailatul Qadr 7. Ikhlas dalam Mencintai Masjid 8. Ikhlas dalam Perjalanan untuk Shalat 9. Ikhlas Menunggu Shalat Jamaah di Masjid 10. Ikhlas Menjawab Azan 11. Ikhlas dalam Berpuasa 12. Ikhlas dalam Mengeluarkan Zakat 13. Ikhlas dalam Bersedekah 14. Ikhlas dalam Menunaikan Ibadah Haji 15. Ikhlas Ingin Mati Syahid 16. Ikhlas dalam Ketetapan Hati 17. Ikhlas Siap untuk Berperang 18. Ikhlas dalam Berjihad 19. Ikhlas dalam Bertaubat 20. Ikhlas dalam Beristighfar 21. Ikhlas dalam Menangis 22. Ikhlas dalam Berzikir 23. Ikhlas dalam Kejujuran 24. Ikhlas dalam Bersabar 25. Ikhlas Dalam Bertawakkal 26. Ikhlas dalam Mencintai 27. Ikhlas dalam Bersilahturrahim di Jalan Allah 28. Ikhlas dalam Berbakti kepada Orangtua 29. Ikhlas dalam Meninggalkan Kemungkaran 30. Ikhlas dalam Memberikan Upah 31. Ikhlas dalam Niat Meskipun Belum Berbuat 32. Ikhlas dalam Berzuhud 33. Ikhlas Dalam Bertawadhu’ Rendah Hati 34. Ikhlas dalam Membangun Masjid 35. Ikhlas Berziarah ke Masjid Rasulullah Saw UntukBelajar dan Mengajar 36. Ikhlas dalam Menyiapkan Perang dan MemberikanTeladan 37. Ikhlas Mengantarkan Jenazah Muslim 38. Ikhlas dalam Memberikan Makanan 39. Ikhlas dalam Berdoa K. Keikhlasan Semu BAB II - Bahaya Riya, Mengetahui Penyebab dan Upaya Menghindarinya A. Bahasa tubuh Riya’ badani B. Perbuatan yang Nampaknya Syirik atau Riya, tetapiBukan C. Obat dan Upaya Menghindari Riya’ 1. Mengetahui keagungan Allah, nama-nama-Nya, sifatsifat-Nya, dan mengetahui keesaan-Nya sesuai dengankemampuannya 2. Mengetahui siksa dan kenikmatan alam kubur 3. Mengetahui Hadits-Hadits Tentang Siksa Kubur 4. Mengetahui Janji Allah Kepada Orang-Orang yangBertakwa di Surga 5. Mengingat Mati dan Bersikap Realistis 6. Mengetahui Hakikat Dunia dan Kefanaannya 7. Berdoa 8. Memunculkan Rasa Takut Akan Munculnya Riya’Setelah Beramal 9. Membiasakan Menyembunyikan Amal Baik Kecualidalam Keadaan Mendesak 10. Bersahabat dengan orang yang ikhlas, shalih danbertakwa 11. Takut Terhadap Riya’ 12. Menjauhi Celaan Allah 13. Ingin Dicintai Allah daripada Manusia 14. Mengetahui Apa Yang Ditakuti Setan D. Perbuatan yang Ditakuti Setan BAB III - Ikhlas dan Rahasia Kedahsyatannya A. Akibat-akibat Riya’ B. Beberapa Hadits Shahih Mengenai Ikhlas dan KecamanTerhadap Riya’ dari Kitab “at-Targhib wa at-Tarhib” C. Nasihat dan Kata Mutiara Yang Berkaitan dengan Ikhlas D. Kata Mutiara dari Orang-orang Salaf Mengenai Niat,Ikhlas dan Bahaya Riya’ E. Kisah Inspiratif Rahasia Kedahsyatan Ikhlas 1 Kisah Kakek dan Pencuri Pepaya 2 Kisah Nenek yang Ikhlas 3 Bekerja Ikhlas Menuai Hasil yang Baik 4 Belajarlah untuk Ikhlas 5 Buah Keikhlasan [Sebuah Kisah Nyata] 6 Kisah Menarik Dahsyatnya Ikhlas Sedekah 7 Kisah Inspiratif tentang “Ikhlas” 8 Kisah Cerdiknya Seorang Pemuda yang Ikhlas 9 Ikhlas Itu Indah 10 Kisah Teladan Orang-Orang Ikhlas Kutipan BAB 1 / Ikhlas, Kunci Utama Diterimanya Amal Ibadah Sebelum Anda melangkah untuk melakukan amal ibadah, Anda harus tahu terlebih dahulu cara yang efektif agar amal ibadah dapat diterima oleh Allah Swt. Jangan sampai Anda berlelah-lelah beribadah tetapi tidak memperoleh apa-apa. Ingatlah! Banyak orang yang berlelah- lelah melaksanakan amal ibadah, namun hasilnya nihil, malah di akhirat ia harus bersiap-siap menghadapi siksaan dari Allah Swt. Rasulullah Saw telah memperingatkan dalam hadits berikut ini “Banyak orang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa lapar. Banyak orang bangun shalat malam, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali keterjagaan saja.” HR. Ibnu Majah. Untuk itu, Anda harus tahu terlebih dahulu syarat agar amal ibadah yang kita lakukan diterima di sisi Allah Swt. Setidaknya ada dua syarat yang harus dipenuhi bila amal ibadah Anda diterima di sisi Allah Swt, yaitu Dalam melakukan amal ibadah yang dituju hanya ingin mencapai ridha Allah. Dalam melakukan amal ibadah harus mengikuti ketentuan yang telah diberikan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan hadits Rasulullah dalam sunnahnya. Apabila salah satu dari dua syarat tersebut tidak dipenuhi, maka amal ibadah Anda tidak dapat dikatakan sebagai amal shalih. Implikasinya, amal ibadah Anda tidak diterima oleh Allah Swt, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah berikut ini “Katakanlah Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendak-lah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.” QS. Al-Kahfi 110 Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa Allah Swt hanya menerima “amal shalih” yang dilakukan dengan ikhlas hanya karena Allah Swt, bukan karena ada motivasi lain. Yang dimaksud “amal shalih” itu sendiri adalah semua amalan yang sesuai dengan ketentuan syara’. Syekh Al-Bani At-Tawassul anwa’uhu wa ahkamuhu. Al-Hafizh Ibn Katsir dalam tafsirnya juga menyebutkan bahwa ada dua syarat agar amal ibadah dapat diterima Allah Swt, yaitu perbuatannya dilakukan dengan ikhlas karena Allah, dan sejalan dengan syariat Allah dan Rasulullah, Muhammad Saw. Pendapat senada juga dikemukakan oleh al-Qadhi Iyadh dan ulama lainnya. A. Manisnya Ikhlas, Bahayanya Riya dan Syirik Setiap amal ibadah harus didahului dengan niat, sebagai-mana sabda Rasulullah Saw “Sesungguhnya seluruh amal ibadah bergantung pada niatnya.” Agar supaya niat memenuhi harapan, maka niat harus dilakukan dengan tulus ikhlas hanya karena Allah semata. Niat yang tidak ikhlas hanya akan membuat amal ibadah yang kita kerjakan sia-sia belaka. Allah hanya menerima amal ibadah yang dilakukan dengan penuh keikhlasan, yaitu hanya mengharapkan ridha dari-Nya. Sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Swt berikut “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” QS. Al-Bayyinah 5 Juga dalam firman-Nya “Katakanlah “Jika kamu Menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah Mengetahui.” Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” QS. Ali Imran 29 Dalam ayat ini Allah melarang perbuatan riya memamerkan amal kepada selain Allah. Karena riya akan menghapus amal ibadah yang telah dilakukan seperti yang dinyatakan Allah dalam firman-Nya “Dan Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-nabi yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan Tuhan, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” QS. Az-Zumar 65 Sikap riya sangat merugikan, karena riya dapat menghapus pahala orang yang melakukan amal ibadah. Untuk itu, dalam beberapa kesempatan kita dianjurkan senantiasa berdoa agar dijauhkan dari sifat riya, seperti doa ketika membaca talbiah yang diucapkan orang yang sedang menjalankan ibadah haji, sebagai berikut “Ya Allah jadikanlah haji kami haji yang tidak bercampur dengan sifat riya dan sum’ah.” HR. Adh-Dhiya dengan sanad yang shahih. Rasulullah Saw juga memberikan peringatan keras agar kita menghindari sifat riya, seperti yang tersebut dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah “Manusia pertama yang dihisab oleh Allah pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Kemudian Allah mendatanginya seraya menunjukkan pahala yang akan diperolehnya, maka tahulah dia pahala tersebut. Allah bertanya Apakah yang telah kamu perbuat? Dia menjawab, saya berperang hanya karena Engkau sampai saya mati syahid.’ Allah berkata, kamu telah berbohong, karena kamu berperang agar ada yang mengatakan, engkau pemberani!’, sebagaimana yang dikatakan orang. Kemudian Allah memerintahkan dia pergi seraya melemparkan amalnya ke mukanya sampai dia terlempar ke neraka. Kedua Kemudian orang yang menuntut imu kemudian mengajarkan ilmunya serta rajin membaca Al-Qur’an seraya menunjukkan nikmat-nikmat yang akan diterimanya, maka tahulah dia akan nikmat-nikmat itu. Allah bertanya, Apakah yang telah kamu perbuat?’ Dia menjawab, saya menuntut ilmu kemudian mengajarkannya dan saya rajin membaca Al-Qur’an karena Engkau.’ Allah menjawab, kamu berbohong, karena engkau belajar agar dikatakan kamu adalah orang yang pandai dan kamu membaca Al-Qur’an agar dikatakan kamu adalah Qari!’ Sebagaimana yang dikatakan orang. Kemudian Allah memerintahkan kepadanya seraya melemparkan amalnya ke mukanya sampai dia terlempar ke neraka. Ketiga Kemudian orang yang diberi kelapangan rezeki oleh Allah dan dia menyisihkan sebagian untuk sedekah. Allah menghampirinya sambil menunjukkan pahala yang akan diterimanya, maka tahulah dia pahala tersebut. Allah bertanya, Apa yang telah kamu perbuat?’ Dia menjawab, saya tidak pernah meninggalkan jalan yang Engkau cintai dalam menafkahkan harta, kecuali saya menafkahkan sebagian harta tersebut hanya karena Engkau’. Allah menjawab, Kamu berbohong, karena kamu berbuat seperti itu supaya kamu dikatakan orang dermawan!’ Sebagaimana yang dikatakan orang. Kemudian Allah memerintahkan kepadanya seraya melemparkan amal tersebut ke mukanya sampai dia terlempar ke neraka.’ HR. Imam Muslim. Dan hadits diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa dia mendengar Rasulullah Saw bersabda “Allah Swt berfirman Saya adalah sekutu yang paling tidak butuh dengan sekutu, barangsiapa beramal dengan menyekutukan Aku dengan selain Aku, maka Aku akan meninggalkan dia dan sekutunya.” HR. Imam Muslim Juga beliau Saw bersabda “Barangsiapa yang menuntut ilmu tidak karena mencari ridha Allah, maka dia hanya mendapat imbalan dunia, dia tidak mendapatkan bau surga pada hari kiamat.” HR. Abu Daud. Sebagai seorang perempuan yang telah menikah, mendapatkan kabar bahagia sebuah kehamilan merupakan impian setiap pernikahan. Menikah dan punya anak menjadi impian saya saat itu, yah tentu saja punya anak juga menjadi impian suami saya dan keluarganya. Impian menimang cucu pertama dari kami. Saya menikah pada tahun 2017, tepatnya pada tanggal 8 Januari 2017. Saat itu saya masih bekerja pada salah satu institusi pendidikan di Makassar dan suami mengabdi pada salah satu rumah sakit daerah di Kota Sorong. Saya tidak pernah menyangka akan berjodoh dengan teman sendiri sewaktu SMA. Sama-sama kelahiran Kota Sorong Papua, yang memaksa saya untuk segera kembali ke kota kelahiran setelah betah selama 10 tahun menjadi warga Kota Makassar. Setelah 6 bulan kami mengarungi kehidupan berumah tangga, akhirnya kabar gembira tentang kehamilan pun dating. Perasaan yang teramat sangat bahagia. Bagi kami kehadiran seorang anak adalah berkah luar biasa dari Tuhan. Saat itu saking bahagianya seolah tidak ada satupun kata yang mampu mewakili rasa bahagia kami. Hari demi hari kebahagiaan kami makin bertambah dengan isyarat dari alam rahim dengan gerakan-gerakannya yang aktif. Kenyataan bahwa ada kehidupan dalam rahim saya sendiri, membuat saya semakin mensyukuri nikmat dan besar kasih sayang-Nya. *** Akan tetapi, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama kami rasakan. Ketika memasuki trimester kedua dalam kehamilan, anak kami dinyatakan “meninggal” dalam kandungan pada usia 27 minggu. Karena saat USG tidak terdengar lagi bunyi detak jantung janin sebagai tanda kehidupan dari alam rahim. Air ketuban pecah dini karena merembes. Itulah diagnosa dokter terhadap penyebab kehilangan anak kami. Menurut dokter, air ketuban merembes dalam jumlah sedikit dan tidak terlalu sering memang hal yang normal. Namun, berkurangnya air ketuban dalam jumlah banyak akan menimbulkan risiko yang fatal bagi bunda dan janin yang ada di dalam kandungan. Air ketuban merembes atau bocor pada trimester pertama dan kedua dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti keguguran, cacat lahir, lahir prematur, hingga yang paling fatal adalah kematian bayi. Sementara itu, kehilangan air ketuban dalam jumlah besar di masa trimester ketiga akan menyebabkan kesulitan selama proses persalinan. Kabar itu membuat duniaku runtuh dan hancur. Selama berhari-hari jiwa saya merasa sangat terguncang. Saya belum siap dengan “kehilangan” ini. Berbagai penolakan atas kejadian tersebut saya ajukan kepada Tuhan. Mengapa harus saya Tuhanku? Mengapa kau ambil kembali setelah kau memberinya? *** Saya benar-benar memberi signal penolakan, bahwa kenapa harus saya yang mendapatkan ujian “kehilangan”. Lalu kenapa juga saya dipaksa harus mengikhlaskan semuanya. Sementara bukan hanya sakit fisik yang saya derita, tetapi sakit secara psikologis juga saya rasakan. Karena harus melahirkan bayiku sendiri dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Keadaan memaksa saya harus melewati proses kehilangan dengan melihat ibu-ibu lain memposting bayi-bayi mereka yang lahir dengan selamat dan sehat pada laman sosial media. Saya harus melihat teman-teman dengan usia kehamilan yang sama dengan saya menikmati proses kehamilan mereka sampai bayi mereka lahir dengan selamat. Sungguh sebuah potret kebahagiaan yang tidak adil bagi saya. Ibrahim adalah nama yang kami beri kepadanya. Saya tidak pernah menyangka secepat itu saya kehilangan dirinya. Sebagai seorang ibu yang merasakan pengalaman reproduksi setiap bulannya, sangat berat bagi saya mengikhlaskan kepergiannya yang begitu cepat. Bahkan sejak saat itu, rasa baper saya meningkat. Saya sangat sering menangis, bahkan sering terbangun di tengah malam menangis sesegukan. *** Sepanjang tahun 2018 merupakan tahun yang berat bagi saya. Pengalaman kehilangan sosok “Ibrahim” yang belum sempat saya asuh dan asih merupakan jalan takdir yang saya harus terima dan lalui. Dari kehilangannya pun saya benar-benar belajar tentang ilmu ikhlas. Ilmu yang sangat berat untuk mampu mencapai maqomnya. Membaca dan mendengar ceramah dari para pemuka agama tentang keuntungan dan upah besar yang menanti bagi orang tua yang kehilangan anaknya sebelum memasuki usia baligh adalah sebuah kabar gembira dari Tuhan. Karena anak tersebut meninggal dalam keadaan masih suci. Mendengar akan hal itu segala penolakan yang saya tunjukkan di awal kehilangan Ibrahimakhirnya luluh. Saya belajar tentang arti kehilangan yang sesungguhnya. Bahwa benar, betapa kehilangan membuat kebahagiaan seketika menjadi lenyap. Betapa kehilangan mampu merubah keadaan suka menjadi duka. Tidak ada senyum di sana, tidak ada gelak tawa. Hanya gemuruh kesedihan yang saya rasakan. Namun, hikmah dan upah Allah SWT untuk orang tua yang bayinya meninggal, sangatlah besar dan itu adalah keberuntungan yang akan kami terima pada hari akhir nantinya. *** Seperti Nabi Daud yang ditinggal mati oleh putranya. Ketika berkesedihan beliau begitu mendalam dan Allah menanyakan kepadanya, “Wahai Daud, apa perumpamaan anak itu bagimu?” “Wahai Tuhanku, bagiku ia seperti butiran emas yang memenuhi bumi ini.” Kemudian Allah berfirman, “Di hari Kiamat kelak, engkau memiliki pahala di sisi-Ku setara dengan isi bumi ini.” Bagi mereka yang mungkin merasakan pengalaman yang sama dengan saya. Tentu bukanlah hal yang mudah. Namun anak-anak kita yang telah meninggal itu setidaknya mengajarkan kita sebuah “ilmu ikhlas”. Anakku Ibrahim telah mengajarkan saya tentang ilmu itu. Karena tidak ada rasa sedih yang lebih mendalam dari ditinggal oleh sang buah hati.

kisah inspiratif tentang ikhlas